Museum Tekstil Nasional

Terakhir diperbarui: Oktober 2026

Bangunan bergaya Moor bergaris dari Museum Tekstil Nasional, Kuala Lumpur

National Textile Museum (Muzium Tekstil Negara) menempati gedung bata merah bergaris putih di Jalan Sultan Hishamuddin, tepat di samping Gedung Sultan Abdul Samad dan di seberang jalan dari Merdeka Square. Dikelola oleh Jabatan Muzium Malaysia, museum ini mengisahkan kain dan perhiasan Malaysia, mulai dari kain kulit kayu dan alat tenun gendong hingga batik, songket benang emas, pua kumbu Iban, dan sulaman manik Nyonya. Museumnya kecil, murah, dan berketerangan lengkap dalam bahasa Inggris dan Melayu, serta mudah dimasukkan ke dalam rute jalan kaki di kawasan inti kolonial lama Kuala Lumpur.

Panduan ini membahas sejarah gedung, isi keempat galerinya, tiket dan jam buka (dicek Oktober 2026), cara menuju ke sana, serta tips praktis.

Alamat26 Jalan Sultan Hishamuddin
DetailSetiap hari 9 pagi – 5 sore (tiket terakhir 4:30 sore)
Dewasa warga Malaysia RM2; dewasa non-Malaysia RM5
KawasanDataran Merdeka
Durasi kunjunganSekitar 1 jam
Tercantum diAtraksi Kuala Lumpur
Antar saya ke sini
TerverifikasiTerverifikasi Oktober 2026

Sejarah Gedung National Textile Museum

Gedung ini lebih tua dari museumnya lebih dari satu abad. Gedung dirancang oleh Arthur Benison Hubback, arsitek pemerintah di balik beberapa ikon kolonial paling terkenal di Kuala Lumpur, termasuk Masjid Jamek dan Stasiun Kereta Api Kuala Lumpur lama. Gedung selesai dibangun pada 1905 sebagai kantor pusat Federated Malay States Railways (FMSR), cikal bakal Keretapi Tanah Melayu (KTM) saat ini. Halaman resmi Jabatan Muzium menyebut tahun 1896 untuk situs ini, tetapi sebagian besar sumber sejarah yang diterbitkan, termasuk catatan para sukarelawan museum, menyebut 1905 sebagai tahun selesainya.

Hubback berkarya dengan gaya yang biasa disebut Indo-Saracenic atau Neo-Mughal: tafsiran kolonial Inggris atas arsitektur Mughal dan Moor dari India. Di sini wujudnya berupa pita bata merah yang berselang-seling dengan plester putih (pola "blood and bandages"), lengkungan tapal kuda dan lengkungan runcing, menara sudut ramping, dan kubah bawang kecil. Gedung ini setinggi dua setengah lantai dengan luas lantai sedikit di atas 3.000 meter persegi. Nama resminya di pemerintahan masih JKR 26, pengingat bahwa gedung ini milik Jabatan Kerja Raya.

Administrasi perkeretaapian pindah pada 1917 ke Railway Administration Building yang lebih besar di seberang Stasiun Kereta Api Kuala Lumpur, dan gedung di Jalan Sultan Hishamuddin diserahkan ke Jabatan Kerja Raya Selangor. Selama beberapa dekade berikutnya gedung ini menampung banyak kantor pemerintah: Jabatan Air Selangor, Bank Negara Malaysia (bank sentral), Bank Pertanian, Perbadanan Kemajuan Kraftangan Malaysia (Kraftangan Malaysia), dan, untuk sementara waktu, Mahkamah Tinggi. Gedung ini ditetapkan sebagai bangunan bersejarah pada 1983, yang melindungi fasad dan strukturnya.

Setelah dipugar, gedung ini dibuka kembali sebagai National Textile Museum pada 9 Januari 2010.

Yang Bisa Dilihat: Empat Galeri

Koleksinya ditata di dua lantai dalam empat galeri tetap. Lantai dasar menjelaskan cara kain dibuat dan bagaimana tradisi tekstil menyebar; lantai atas berfokus pada tekstil Melayu jadi dan perhiasan.

Galeri Pohon Budi (lantai dasar)

Galeri pengantar ini menelusuri pembuatan tekstil dari kain kulit kayu prasejarah hingga masa kini, dengan alat tenun, perkakas, dan contoh untuk setiap teknik. Perhatikan alat tenun gendong, yang menunjukkan mengapa kain tenun tangan awal berukuran sempit (lebarnya dibatasi oleh tubuh penenun sendiri), serta pameran tentang kalendering dan penyepuhan, sulaman benang emas pada beludru, tenun kerajaan Pahang, alat tenun songket, manik-manik, ikat celup, dan perkakas pembuatan batik: canting untuk garis lilin yang digambar tangan dan cap tembaga untuk batik cap.

Galeri Pelangi (lantai dasar)

Pelangi berarti "rainbow" dan nama ini sekaligus merupakan istilah Melayu untuk kain ikat celup. Galeri ini menampilkan tekstil dari berbagai komunitas di Malaysia. Bagian besar membahas batik, yang berkembang di pantai timur semenanjung, terutama di Kelantan dan Terengganu, sejak 1930-an sebagai jawaban lokal atas kain Jawa impor yang mahal. Ada batik tulis dan batik cap, tekstil Baba dan Nyonya yang sarat benang emas dan manik-manik, kain buatan India yang masuk ke dunia Melayu melalui perdagangan, dan tekstil etnis dari Sabah dan Sarawak, termasuk pua kumbu Iban, selimut upacara ikat lungsin yang motifnya dapat bercerita dan, tidak seperti songket, tidak menggunakan benang emas.

Galeri Teluk Berantai (lantai atas)

Dinamai menurut motif "teluk berantai" yang umum dalam desain Melayu, galeri ini dikhususkan untuk tekstil Melayu paling halus: songket (sutra atau katun yang ditenun dengan benang emas atau perak tambahan), kain limar (sutra bermotif ikat pakan, sering dipadukan dengan tepi songket), dan tekat, sulaman benang emas timbul yang dipakai pada ujung bantal, hiasan pelaminan, dan dekorasi pengantin. Busana tradisional pada manekin menunjukkan cara kain-kain ini dikenakan di istana dan pada pernikahan, dan panel informasi menjelaskan bagaimana tekat mengambil pengaruh dari tradisi sulaman India dan Tiongkok.

Galeri Ratna Sari (lantai atas)

Galeri terakhir beralih dari kain ke perhiasan pribadi: perhiasan dan aksesori dari emas, perak, tembaga, manik-manik, dan bulu buatan perajin Melayu, Tionghoa, India, dan Orang Asli serta masyarakat adat Sabah dan Sarawak. Sorotannya antara lain kalung liontin untuk menyimpan jimat, set bros kerongsang untuk menyematkan kebaya, cincin, ikat pinggang, gelang, hiasan kepala, dan mahkota pengantin berwarna biru dari bulu burung raja udang.

Museum ini juga mengadakan pameran temporer, sering kali tentang satu jenis tekstil (songket, batik, atau tenun dari daerah tertentu), dan sesekali menggelar lokakarya serta demonstrasi. Museum ini berada di jalur warisan Kuala Lumpur, sehingga mudah dipadukan dengan bangunan-bangunan era kolonial lainnya dengan berjalan kaki.

Tiket, Jam Buka, dan Berapa Lama Berkunjung

Cara Menuju National Textile Museum

Tips Berkunjung

Lokasi National Textile Museum

Terdekat

Rencanakan rute dengan jam buka menggunakan perencana perjalanan Where2Go.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Berapa harga tiket masuk National Textile Museum?

Dewasa non-Malaysia membayar RM5 dan dewasa warga Malaysia RM2. Lansia warga Malaysia dan penyandang disabilitas membayar RM1, dan anak-anak membayar tarif potongan atau masuk gratis tergantung usia dan kewarganegaraan.

Jam berapa National Textile Museum buka?

Museum buka setiap hari pukul 9 pagi hingga 5 sore, dengan tiket terakhir dijual pukul 4:30 sore. Museum tutup pada dua hari pertama Hari Raya Idulfitri dan hari pertama Hari Raya Iduladha.

Dulunya gedung National Textile Museum digunakan untuk apa?

Gedung ini selesai dibangun pada 1905 sebagai kantor pusat Federated Malay States Railways. Gedung dirancang oleh Arthur Benison Hubback dan kemudian menampung kantor-kantor pemerintah, sebuah bank, dan Mahkamah Tinggi sebelum dibuka sebagai museum pada 2010.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan di National Textile Museum?

Sekitar satu jam cukup untuk keempat galeri. Sediakan 90 menit jika Anda ingin membaca panel tentang tenun, batik, dan sulaman benang emas secara mendetail.

Stasiun apa yang terdekat dengan National Textile Museum?

Stasiun LRT Masjid Jamek berjarak sekitar lima menit berjalan kaki. LRT/MRT Pasar Seni dan Stasiun KTM Kuala Lumpur masing-masing sekitar sepuluh menit berjalan kaki.

Sumber

Lihat semua atraksi di Kuala Lumpur