Kampung Baru
Terakhir diperbarui: Oktober 2026
Kampung Baru adalah permukiman Melayu di tengah Kuala Lumpur, tepat di seberang Sungai Klang dari Menara Kembar Petronas. Kawasan ini disisihkan untuk pemukim Melayu pada 1899, dan meskipun kini dikelilingi gedung perkantoran di tiga sisinya, sebagian wilayahnya masih tampak seperti desa: rumah kayu panggung, pohon buah dan kamboja di pekarangan, surau kecil, serta masjid tua yang megah. Kampung Baru juga salah satu tempat terbaik di kota untuk menyantap masakan Melayu, dari nasi lemak untuk sarapan hingga sate larut malam. Berjalan-jalan di sini tidak dipungut biaya, dan satu atau dua jam sudah cukup untuk melihat tempat-tempat utamanya.
Panduan ini membahas sejarah Kampung Baru, bangunan yang layak dilihat, tempat dan waktu makan, cara menuju ke sana, dan cara berkunjung dengan sopan.
| Alamat | Kampung Baru, di sekitar Jalan Raja Abdullah |
|---|---|
| Detail | Kawasan terbuka 24 jam; warung makan sebagian besar buka pagi dan malam Gratis |
| Kawasan | Kampung Baru |
| Durasi kunjungan | Sekitar 1 jam |
| Tercantum di | Atraksi Kuala Lumpur |
| Antar saya ke sini | |
| Terverifikasi | Terverifikasi Oktober 2026 |
Sejarah Kampung Baru
Pada 1899 pemerintah kolonial Inggris di Selangor, dengan persetujuan Sultan Alauddin Sulaiman Shah, menyisihkan sekitar 90 hektare tanah antara Sungai Klang dan Batu Road (kini Jalan Tuanku Abdul Rahman) sebagai permukiman bagi orang Melayu. Kawasan ini resmi ditetapkan sebagai Malay Agricultural Settlement (MAS) dalam Lembaran Negara Pemerintah Selangor tanggal 12 Januari 1900. Gagasan yang dikaitkan dengan Residen Jenderal Frank Swettenham ini bertujuan memberi orang Melayu pijakan di kota tambang yang berkembang pesat, tempat mereka bisa bertani dan belajar berdagang sambil mempertahankan cara hidup desa.
Permukiman ini dikelola oleh Malay Agricultural Settlement Board, badan beranggotakan 11 orang yang pertama kali bersidang pada 11 Maret 1900. Permukiman ini terdiri dari tujuh kampung: Kampung Periok, Kampung Masjid, Kampung Atas A, Kampung Atas B, Kampung Hujung Pasir, Kampung Paya, dan Kampung Pindah. Tanah hanya boleh dimiliki oleh orang Melayu, aturan yang masih membentuk kawasan ini hingga kini. Pada sensus 1928 terdapat 544 rumah dan sekitar 2.600 penduduk.
Kampung Baru memainkan peran yang sangat besar dalam politik Malaysia. Sultan Sulaiman Club, yang didirikan oleh warga pada 1901, menjadi klub sosial Melayu terkemuka di ibu kota; Pangeran Wales disambut di sana dalam lawatannya pada 1922, dan pada 1946 klub ini menjadi tempat Kongres Melayu yang menentang rencana Malayan Union Inggris dan berujung pada berdirinya UMNO. Kawasan ini termasuk yang paling parah terdampak dalam kerusuhan rasial 13 Mei 1969, dan pada 1998 menjadi pusat protes jalanan Reformasi.
Selama puluhan tahun, pemerintah berupaya membangun kembali lahan berharga di dekat KLCC ini. Kampung Baru Development Corporation (Perbadanan Pembangunan Kampung Bharu) dibentuk untuk merencanakan perubahan tersebut, dan menara-menara baru telah berdiri di sepanjang tepinya, tetapi banyak keluarga memiliki tanah secara bersama-sama lintas beberapa generasi, dan negosiasi soal ganti rugi serta warisan budaya masih berlangsung. Lambatnya proses inilah yang membuat inti kampung tetap bertahan.
Yang Bisa Dilihat di Kampung Baru
Rumah tradisional Melayu
Rumah-rumahnya adalah alasan utama untuk berjalan-jalan di sini. Sebagian besar terbuat dari kayu, berdiri di atas tiang dengan atap curam, beranda, dan papan lisplang berukir, dan banyak yang telah diperluas selama bertahun-tahun dengan lantai dasar dari bata. Dua contoh terkenal adalah Rumah Limas, dibangun pada 1913 dan salah satu rumah tradisional terbesar yang tersisa di kawasan ini (limas merujuk pada atapnya yang berbentuk perisai menyerupai piramida), dan Master Mat's House, dibangun pada 1921 dengan gaya Melayu-Palladian di atas tiang batu untuk Ahmad Mohamed, seorang pensiunan kepala sekolah berbahasa Inggris. Ini adalah rumah pribadi, jadi lihatlah dari jalan.
Sultan Sulaiman Club
Di sudut Jalan Raja Alang dan Jalan Tuanku Abdul Rahman, halaman klub ini memiliki replika bangunan kayu tradisional yang dibuka sebagai galeri pada 2007, dengan pameran tentang sejarah politik Melayu dan kongres 1946. Klub ini juga menjadi titik kumpul biasa untuk tur jalan kaki berpemandu di kampung ini.
Masjid Jamek Kampung Baru
Di persimpangan Jalan Raja Alang dan Jalan Raja Abdullah, masjid utama Kampung Baru ini berawal dari rumah ibadah kecil dari kayu dan bambu, lalu dibangun ulang dengan bata dengan perpaduan unsur Mughal dan Melayu. Masjid ini adalah pusat spiritual komunitas dan penuh sesak saat salat Jumat dan selama Ramadan.
Gurdwara Sahib Tatt Khalsa Diwan
Di Jalan Raja Alang, di tepi kampung, kuil Sikh ini dibangun antara 1922 dan 1924 di atas lahan sekitar 0,8 hektare dan merupakan salah satu gurdwara terbesar di Asia Tenggara. Pengunjung umumnya disambut; tutupi kepala Anda dan lepaskan alas kaki.
Saloma Link dan pemandangan KLCC
Jembatan penyeberangan Saloma Link, dibuka pada 5 Februari 2020, melintasi Sungai Klang dan jalan tol AKLEH untuk menghubungkan Kampung Baru dengan sisi KLCC. Jembatan ini dinamai dari penyanyi Saloma, yang dimakamkan di pemakaman Muslim di dekatnya, dan desainnya terinspirasi dari sireh junjung, rangkaian daun sirih yang digunakan dalam pernikahan Melayu. Pada malam hari, kanopinya yang bercahaya dan menara kembar di belakangnya menjadi salah satu foto paling terkenal di KL. Jembatan ini tutup sekitar pukul 1 hingga 5 pagi.
Tempat dan Waktu Makan
Kampung Baru paling terkenal dengan masakan Melayunya. Jalan Raja Muda Musa adalah jalan kuliner utama, dengan warung dan restoran yang menyajikan nasi lemak, nasi padang, ikan bakar, sate, dan kue. Nasi Lemak Antarabangsa di Jalan Raja Muda Musa adalah salah satu nama nasi lemak paling terkenal di kota ini dan selalu antre saat sarapan. Jalan Raja Alang memiliki toko yang menjual jamu, kurma, air Zamzam, dan perlengkapan ibadah.
Tempat makan paling ramai saat sarapan (sekitar pukul 7 hingga 10 pagi) dan kembali pada malam hari. Hampir semua makanan di sini halal, dan banyak warung yang istirahat sekitar waktu salat Jumat.
Jam Buka, Biaya, dan Berapa Lama Berkunjung
- Jam buka: ini adalah kawasan permukiman, jadi jalan-jalannya terbuka setiap saat. Warung makan paling ramai pada pagi dan malam hari.
- Biaya: berjalan-jalan gratis; makan di warung biasanya jauh di bawah RM20.
- Waktu yang dibutuhkan: sekitar satu jam untuk berkeliling jalan-jalan utama, dua jam jika ditambah makan atau tur berpemandu.
Cara Menuju Kampung Baru
- LRT: stasiun Kampung Baru di Jalur Kelana Jaya berada di Jalan Raja Abdullah, di tepi barat daya kawasan ini.
- MRT: stasiun Raja Uda di Jalur Putrajaya melayani sisi utara.
- Monorel: stasiun Chow Kit dapat dicapai dengan berjalan kaki sebentar ke arah barat menyeberangi Jalan Tuanku Abdul Rahman.
- Dari KLCC: berjalan kaki melewati jembatan Saloma Link dari Jalan Ampang/Persiaran KLCC; waktu tempuhnya sekitar 10 menit.
- Grab: minta diantar ke Jalan Raja Muda Musa untuk warung makan. Parkir di pinggir jalan sangat terbatas, terutama saat jam makan malam.
Tips Mengunjungi Kampung Baru
- Ini adalah kawasan yang masih dihuni. Berpakaianlah sopan (menutup bahu dan lutut adalah patokan yang baik), jaga suara di gang-gang, dan minta izin sebelum memotret orang atau bagian dalam pekarangan.
- Pengunjung non-Muslim tidak boleh memasuki masjid saat waktu salat; di luar waktu itu, tanyakan di pintu masuk, dan kenakan lengan panjang serta celana panjang atau rok panjang. Perempuan harus menutup rambut.
- Sore hari menyenangkan untuk berjalan kaki, karena panas mereda dan warung makan malam mulai buka; akhiri di Saloma Link saat senja untuk menikmati pemandangan KLCC.
- Tur jalan kaki warisan berpemandu di kampung ini pernah diadakan dari Sultan Sulaiman Club; periksa operator tur yang aktif sebelum berangkat jika Anda menginginkan pemandu.
- Trotoarnya tidak rata dan beberapa gang tidak memiliki jalur pejalan kaki, jadi kenakan sepatu yang nyaman dan waspadai sepeda motor.
Lokasi Kampung Baru
Terdekat
- Hospital Pakar Al-Islam – Rumah sakit, 0,2 km
- AZ Dobi Layan Diri – Binatu, 0,3 km
- Nasi Lemak Wanjo — Makanan hawker, 0,3 km
- Gurdwara Sahib Tatt Khalsa Diwan – Tempat ibadah, 0,3 km
- Chow Kit Market – Tempat wisata, 0,5 km
- Kuih stalls at Bazaar Baru Chow Kit – Makanan penutup, 0,5 km
Rencanakan rute dengan jam buka menggunakan perencana perjalanan Where2Go.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah Kampung Baru layak dikunjungi?
Ya, terutama jika Anda ingin melihat rumah kayu tradisional Melayu dan menyantap masakan Melayu di pusat kota. Berjalan-jalan di sini gratis dan letaknya tepat di samping KLCC, sehingga mudah digabungkan dengan kunjungan ke Menara Petronas.
Berapa usia Kampung Baru?
Lahan untuk permukiman ini disisihkan pada 1899 dan ditetapkan sebagai Malay Agricultural Settlement pada 12 Januari 1900, sehingga usianya lebih dari 125 tahun.
Bagaimana cara berjalan kaki dari KLCC ke Kampung Baru?
Gunakan jembatan pejalan kaki Saloma Link, yang melintasi Sungai Klang dari sisi KLCC. Perjalanan kaki memakan waktu sekitar 10 menit, dan jembatan tutup sekitar pukul 1 hingga 5 pagi.
Kapan waktu terbaik mengunjungi Kampung Baru?
Datanglah saat sarapan untuk nasi lemak atau pada sore hingga malam hari, saat udara lebih sejuk dan warung makan ramai. Warung lebih sepi sekitar waktu salat Jumat.
Stasiun mana yang paling dekat dengan Kampung Baru?
Stasiun LRT Kampung Baru di Jalur Kelana Jaya adalah yang terdekat. Stasiun MRT Raja Uda dan monorel Chow Kit juga dapat dicapai dengan berjalan kaki.
